Dipublikasikan pada

Hati merupakan salah satu organ vital yang bekerja tanpa henti untuk menjaga berbagai fungsi tubuh. Selain membantu mengolah zat gizi dari makanan, hati berperan dalam metabolisme lemak dan gula, penyimpanan energi, produksi protein tertentu, serta membantu tubuh memproses berbagai zat yang masuk ke dalam tubuh. Karena itu, menjaga kesehatan hati tidak hanya berkaitan dengan menghindari alkohol atau obat-obatan tertentu, tetapi juga erat hubungannya dengan pola makan sehari-hari.

 

Ketika Pola Makan Memengaruhi Kesehatan Hati

Apa yang kita makan dapat memengaruhi berat badan, kadar gula darah, lemak darah, dan kesehatan metabolisme secara keseluruhan. Kondisi tersebut juga berhubungan dengan kesehatan hati.

Salah satu masalah yang banyak mendapat perhatian saat ini adalah metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yaitu kondisi ketika terjadi penumpukan lemak di hati yang berkaitan dengan faktor metabolik. Risiko MASLD dapat meningkat pada seseorang dengan kelebihan berat badan atau obesitas, diabetes tipe 2, gangguan kadar lemak darah, tekanan darah tinggi, maupun masalah metabolik lainnya.

Menurut European Association for the Study of the Liver (EASL) dan organisasi terkait, perbaikan pola makan, aktivitas fisik, serta pengelolaan berat badan merupakan bagian penting dalam penanganan MASLD. Perubahan gaya hidup juga dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan metabolik secara keseluruhan.

 

Apa yang Sebaiknya Ada di Dalam Menu?

Menjaga hati tidak berarti harus menjalani pola makan yang sangat ketat. Fokus utamanya adalah membangun kebiasaan makan yang seimbang dan dapat dilakukan dalam jangka panjang.

  1. Perbanyak sayur dan buah

Sayur dan buah merupakan sumber serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa bioaktif. Konsumsi beragam jenis sayur dan buah membantu membentuk pola makan yang lebih seimbang sekaligus mendukung pengelolaan berat badan.

  1. Pilih sumber karbohidrat yang lebih berkualitas

Karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi. Namun, pilihan sumber karbohidrat perlu diperhatikan. Utamakan sumber karbohidrat yang lebih kaya serat, seperti biji-bijian utuh, dibandingkan terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman dengan kandungan gula tambahan yang tinggi.

  1. Pilih sumber protein yang lebih sehat

Protein dapat diperoleh dari ikan, telur, unggas tanpa kulit, kacang-kacangan, serta berbagai sumber protein lainnya. Variasi sumber protein dapat membantu membangun pola makan yang lebih seimbang.

  1. Batasi makanan tinggi gula tambahan

Asupan gula tambahan yang berlebihan, terutama dari minuman berpemanis, perlu dibatasi. Konsumsi minuman dengan kandungan gula tinggi dapat meningkatkan asupan kalori dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan serta gangguan metabolik.

  1. Perhatikan jenis dan jumlah lemak

Tubuh tetap membutuhkan lemak, tetapi jenis dan jumlahnya penting diperhatikan. Lemak tak jenuh yang terdapat, misalnya, pada ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan beberapa jenis minyak nabati dapat menjadi pilihan dalam pola makan sehat. Sebaliknya, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan makanan ultra-proses sebaiknya tidak berlebihan.

 

Apakah Makanan Tertentu Bisa “Membersihkan” Hati?

Istilah seperti detoks hati atau makanan tertentu yang diklaim dapat “membersihkan racun dari hati” sering ditemukan di media sosial. Namun, kesehatan hati tidak ditentukan oleh satu jenis makanan atau minuman saja.

Tubuh memiliki sistem metabolisme dan detoksifikasi sendiri, dengan hati sebagai salah satu organ penting di dalamnya. Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah mempertahankan pola makan sehat secara konsisten, menjaga berat badan yang sehat, aktif bergerak, membatasi alkohol, serta menghindari penggunaan obat atau suplemen secara sembarangan.

Dengan kata lain, tidak ada satu makanan ajaib yang dapat menggantikan pola hidup sehat secara keseluruhan.

 

Pola Makan Mediterania, Mengapa Sering Direkomendasikan?

Pola makan bergaya Mediterania menjadi salah satu pola makan yang sering dibahas dalam pengelolaan MASLD. Pola ini menekankan konsumsi sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, dan sumber lemak tak jenuh, serta membatasi makanan ultra-proses, gula tambahan, dan konsumsi berlebihan daging olahan.

Dalam pedoman EASL 2024, pola makan bergaya Mediterania menjadi salah satu pendekatan yang didukung untuk membantu memperbaiki kualitas pola makan dan kesehatan metabolik pada pasien dengan MASLD.

Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Pola makan yang sehat seharusnya realistis, sesuai kebutuhan energi, kondisi kesehatan, budaya, serta kebiasaan makan seseorang.

 

Bukan Hanya Soal Makanan

Pola makan merupakan bagian penting, tetapi kesehatan hati tidak berdiri sendiri. Aktivitas fisik, kualitas tidur, berat badan, kondisi metabolik, konsumsi alkohol, serta penggunaan obat dan suplemen juga perlu diperhatikan.

Pada individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas dan MASLD, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu mengurangi lemak di hati dan memberikan manfaat terhadap kesehatan hati. Karena itu, perubahan gaya hidup sebaiknya dilakukan secara konsisten dan tidak berfokus pada diet ekstrem atau penurunan berat badan secara cepat.

 

Kapan Perlu Memeriksakan Kesehatan Hati?

Penyakit hati tidak selalu menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, seseorang dengan faktor risiko seperti obesitas, diabetes tipe 2, gangguan lemak darah, tekanan darah tinggi, atau riwayat penyakit hati perlu berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan pemeriksaan.

Segera berkonsultasi apabila muncul keluhan seperti kulit atau bagian putih mata menguning, urine berwarna gelap, pembengkakan pada perut atau tungkai, mudah lelah yang menetap, atau keluhan lain yang mengarah pada gangguan fungsi hati.

 

Healthy Liver Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Menjaga kesehatan hati tidak harus dimulai dari perubahan besar. Mulailah dengan langkah sederhana: lebih sering memilih makanan utuh, memperbanyak sayur dan buah, mengurangi minuman berpemanis serta makanan ultra-proses, memilih sumber protein dan lemak yang lebih sehat, menjaga berat badan, dan tetap aktif bergerak.

 

Himbauan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi-Hepatologi FINASIM RSUD BDH (Konsultan)

“Sebagai dokter Spesialis Penyakit Dalam, saya mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan peran pola makan dalam menjaga kesehatan hati. Hati memiliki fungsi penting dalam metabolisme zat gizi, sehingga kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak jenuh, makanan ultra-proses, serta alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan hati. Sebaliknya, biasakan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak sayur dan buah, memilih sumber protein yang sehat, membatasi gula dan lemak berlebih, serta menjaga berat badan tetap ideal. Ingat, menjaga kesehatan hati bukan hanya dilakukan ketika sudah muncul keluhan, tetapi dimulai dari pilihan makanan dan gaya hidup sehari-hari. Healthy Liver, Healthy Life—rawat hati Anda mulai dari apa yang Anda konsumsi hari ini.”

– dr. Alida  Avisiena, SP.PD-Subsp.GEH(K),FINASIM (Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi-Hepatologi (Konsultan) FINASIM RSUD BDH)

Hati yang sehat bukan hasil dari satu “makanan super”, melainkan dari kebiasaan sehat yang dilakukan secara konsisten.

 

Sumber : dr. Alida  Avisiena, SP.PD, Subsp. KGEH (Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis (Konsultan) Gastroenterologi-Hepatologi RSUD BDH)

Editor : Dwi Kurnia Puspitasari, S.KM & Fakhri As-shiddiqy, S. KM.  (Tim PKRS RSUD BDH)

 

Referensi

European Association for the Study of the Liver (EASL), European Association for the Study of Diabetes (EASD), & European Association for the Study of Obesity (EASO). (2024). EASL-EASD-EASO clinical practice guidelines on the management of metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD). Journal of Hepatology, 81(3), 492–542. https://doi.org/10.1016/j.jhep.2024.03.031

Rinella, M. E., Neuschwander-Tetri, B. A., Siddiqui, M. S., Abdelmalek, M. F., Caldwell, S., Barb, D., Kleiner, D. E., & Loomba, R. (2023). AASLD practice guidance on the clinical assessment and management of nonalcoholic fatty liver disease. Hepatology, 77(5), 1797–1835. https://doi.org/10.1097/HEP.0000000000000323

World Health Organization. (2024). Healthy diet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet

 

© 2025 - RSUD Bhakti Dharma Husada
Crafted with ♥️ by IT & PKRS RSUD BDH

Untuk Kegawatdaruratan       031-7404444