Dipublikasikan pada

Pernahkah Anda membasuh tangan hanya selama beberapa detik dengan air mengalir tanpa sabun, lalu merasa tangan sudah sepenuhnya bersih? Kebiasaan ini sering kali dianggap cukup, terutama saat kita terburu-buru. Padahal, cuci tangan sekadar “basa-basi” atau bilas cepat sejatinya memberikan rasa aman palsu (false sense of security).

Menyambut Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (Global Handwashing Day), dunia mengusung tema “Be a Handwashing Hero”. Tema ini mengingatkan kita bahwa setiap individu—mulai dari anak-anak, orang tua, pengunjung rumah sakit, hingga tenaga kesehatan—memiliki kekuatan untuk menjadi “pahlawan” yang memutus rantai penularan penyakit hanya melalui tindakan sederhana: mencuci tangan dengan benar memakai sabun dan air mengalir.

 

Mengapa Air Saja Tidak Cukup?

Tangan merupakan jalur utama berpindahnya mikroorganisme patogen (bakteri, virus, dan parasit) ke dalam tubuh kita. Setiap kali kita menyentuh gagang pintu, tombol lift, fasilitas umum, atau berjabat tangan, ribuan kuman menempel di permukaan kulit.

Secara mikrobiologi, lemak dan minyak alami pada kulit menjadi tempat bersembunyi bagi kuman. Air saja tidak mampu mengikat molekul lemak tersebut. Sabun memiliki sifat amfifilik (memiliki molekul pengikat air dan molekul pengikat lemak) yang bekerja merusak membran lipid luar virus dan bakteri, serta memisahkan kuman dari permukaan kulit sehingga dapat terbawa dan terbuang bersama air mengalir.

Membilas tangan tanpa sabun atau membasuhnya kurang dari 10 detik hanya membersihkan kotoran yang kasat mata, namun membiarkan mikrobia berbahaya tetap melekat erat pada tangan.

 

Risiko Kesehatan yang Mengintai di Balik Bilas Cepat

Kebiasaan cuci tangan asal-asalan membuka pintu masuk bagi berbagai penyakit menular berbahaya :

1. Penyakit Saluran Pencernaan (Diare, Tifoid, dan Infeksi E. coli)

Kuman penyebab diare seperti Escherichia coli, Salmonella, atau Rotavirus sangat mudah berpindah dari tangan ke makanan atau mulut. Menurut data Kementerian Kesehatan RI dan WHO, cuci tangan pakai sabun (CTPS) terbukti menurunkan risiko kejadian diare hingga lebih dari 30–40%.

2. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Flu

Virus penyebab ISPA, influenza, hingga penyakit infeksi paru menyebar saat tangan yang terkontaminasi menyentuh area wajah (mata, hidung, atau mulut). Praktik CTPS yang benar mampu mengurangi angka kejadian infeksi saluran pernapasan hingga 20%.

3. Penyakit Menular Lainnya & Infeksi Nosokomial

Di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan atau rumah sakit, kebersihan tangan yang buruk berisiko memicu infeksi silang (healthcare-associated infections) baik antar-pasien, pengunjung, maupun tenaga medis.

 

Langkah Menjadi Handwashing Hero: Bebas Kuman dalam 40–60 Detik

Untuk menjadi pahlawan kebersihan tangan (Handwashing Hero), kita perlu menerapkan standar teknik cuci tangan 6 langkah yang direkomendasikan oleh WHO dan Kementerian Kesehatan RI

Durasi Ideal: 40 hingga 60 detik jika menggunakan air mengalir dan sabun. (Jika tangan tidak tampak kotor, pembersih tangan berbasis alkohol/handrub dapat digunakan selama 20–30 detik).

 

6 Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS):

  1. Basahi tangan, tuangkan sabun secukupnya, lalu gosok kedua telapak tangan secara lembut.
  2. Gosok punggung tangan dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan secara bergantian.
  3. Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari dengan jari-jari yang saling bertautan.
  4. Bersihkan punggung jari dengan posisi jari-jari kedua tangan saling mengunci.
  5. Gosok dan putar ibu jari kiri dalam genggaman tangan kanan dan sebaliknya.
  6. Usapkan ujung jari-jari tangan kanan secara memutar pada telapak tangan kiri dan sebaliknya, lalu bilas dengan air bersih mengalir dan keringkan hingga sempurna.

 

Momen Krusial Wajib Cuci Tangan

Pastikan Anda mencuci tangan pada waktu penting dalam kehidupan sehari-hari:

  • Sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan.
  • Setelah menggunakan toilet / buang air.
  • Setelah menceboki bayi atau merawat anak.
  • Setelah memegang sampah, hewan, atau fasilitas umum.
  • Sebelum dan sesudah menyentuh pasien.
  • Sebelum dan sesudah memasuki area rumah sakit saat berkunjung ke fasilitas kesehatan.

 

Himbauan Komite PPI RSUD BDH

“Keselamatan pasien dan kenyamanan pengunjung adalah prioritas utama kami. Lingkungan rumah sakit yang aman dari risiko infeksi nosokomial (Healthcare-Associated Infections / HAIs) tidak hanya bergantung pada tenaga medis, tetapi juga pada kepedulian seluruh pasien, pendamping, dan pengunjung.

Komite PPI RSUD BDH mengimbau kepada seluruh civitas hospitalia dan masyarakat yang berkunjung ke RSUD BDH untuk :

  1. Mematuhi Kebersihan Tangan di Area Rumah Sakit: Manfaatkan fasilitas handrub berbasis alkohol yang tersedia di setiap koridor, pintu masuk ruangan, dan area pelayanan, serta fasilitas air mengalir dan sabun di seluruh toilet rumah sakit.
  2. Terapkan 5 Momen Kebersihan Tangan: Sebelum kontak/menyentuh pasien,sebelum melakukan tindakan aseptik, setelah terkena cairan tubuh pasien, setelah kontak dengan pasien, setelah kontak dengan lingkungan pasien.
  3. Jadilah Garda Terdepan Pencegahan Infeksi: Bersama-sama kita ciptakan budaya keselamatan (safety culture) di RSUD BDH. Satu langkah kecil Anda dalam mencuci tangan dengan benar adalah perlindungan besar bagi pasien dan keluarga.”
  • Yayuk Ernawati, S.Kep., Ns, M.Tr.Kep (Komite PPI RSUD BDH)

 

Menjadi Handwashing Hero tidak membutuhkan jubah atau kekuatan super. Cukup dengan kesadaran untuk tidak lagi mencuci tangan asal “basa-basi” dan mulai membiasakan teknik cuci tangan pakai sabun yang benar.

Mari lindungi diri sendiri, keluarga tercinta, dan pasien di sekitar kita dari bahaya infeksi penyakit. Tangan yang bersih adalah benteng utama kesehatan bangsa!

Editor : Dwi Kurnia Puspitasari, S.KM. & Fakhri As-shiddiqy, S. KM.  (Tim PKRS RSUD BDH)

 

Referensi

© 2025 - RSUD Bhakti Dharma Husada
Crafted with ♥️ by IT & PKRS RSUD BDH

Untuk Kegawatdaruratan       031-7404444