Tanggal 26 Januari 2026 ini, dunia memperingati World Leprosy Day atau Hari Kusta Sedunia, sebuah momentum global untuk meningkatkan kesadaran, eliminasi stigma, dan memperkuat upaya penanggulangan penyakit kusta. Untuk tahun 2026, tema yang diusung Adalah : Leprosy is curable, the real challenge is stigma atau Kusta dapat disembuhkan, tantangan sebenarnya adalah stigma.
Kusta : Penyakit yang Masih Eksis di Abad ke-21
Kusta, atau Hansen’s disease, adalah penyakit infeksi menahun yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini terutama menyerang kulit dan saraf tepi, dan jika tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan kerusakan saraf dan kecacatan permanen.
Meskipun sudah ada pengobatan yang efektif, kusta tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat di beberapa wilayah dunia karena diagnosa terlambat, kurangnya akses layanan kesehatan, serta stigma sosial yang masih kuat.
Prevalensi Kusta di Dunia
Menurut laporan terbaru dari data global (WHO), pada 2024 diperkirakan sekitar 172.717 kasus baru kusta dilaporkan di seluruh dunia. Angka ini menunjukkan bahwa kusta masih menjadi masalah kesehatan di sejumlah negara, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Amerika Selatan.
Secara global, prevalensi kusta yang terdaftar cenderung di bawah angka target eliminasi WHO (<1 kasus per 10.000 penduduk). Namun demikian, kasus-kasus baru masih ditemukan setiap tahunnya di berbagai negara, menunjukkan adanya transmisi berkelanjutan di komunitas tertentu.
Prevalensi Kusta di Indonesia
Di Indonesia, kusta masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan.
- Pada tahun 2023, terdapat hampir 15.000 kasus baru yang terdeteksi, dengan prevalensi sekitar 0,63 kasus per 10.000 penduduk, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan beban kusta tertinggi di dunia.
- Indonesia berada di peringkat ketiga secara global dalam jumlah kasus baru kusta, setelah India dan Brazil.
Meskipun angka prevalensi nasional telah turun dibandingkan beberapa dekade lalu, beberapa provinsi di Indonesia masih belum mencapai status eliminasi kusta (kurang dari 1 kasus per 10.000 penduduk), menunjukkan bahwa penyakit ini masih ditularkan dan perlu perhatian terus-menerus dari sektor kesehatan dan komunitas.
Kusta Bisa Disembuhkan, Stigma yang Harus Dihapuskan
- Febrian Renatasari, Sp.DVE, FINSDV, Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi RSUD Bhakti Dharma Husada menyampaikan:
“Kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan melalui program Multi-Drug Therapy (MDT) sesuai anjuran WHO. Tantangan terbesar bukanlah dari sisi medis, tetapi dari stigma sosial yang membuat banyak pasien yang merasa malu atau takut untuk berkonsultasi dan mendapatkan pengobatan sejak dini. Diskriminasi ini tidak hanya membatasi akses layanan kesehatan, tetapi juga mengganggu kualitas hidup mereka yang telah sembuh.”
Pernyataan ini mencerminkan kenyataan bahwa stigma sering kali menjadi penghambat utama dalam eliminasi kusta, meskipun terapi pengobatan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi jika diakses dengan cepat dan lengkap.
Stigma dan Dampaknya
Stigma terhadap kusta mengakar dari sejarah panjang penyakit ini yang dibayangkan sebagai penyakit “kutukan” atau aib sosial. Akibatnya:
- Banyak orang menunda pemeriksaan kesehatan hingga penyakit sudah parah.
- Pasien yang sudah sembuh pun sering masih mengalami diskriminasi dalam lingkungan sosial, pekerjaan, dan komunitas.
- Keluarga pasien kusta pun kerap turut didiskriminasi.
Riset juga menunjukkan bahwa stigma ini dapat memperpanjang penularan dan menyebabkan konsekuensi psikologis bagi individu yang terdampak.
Upaya yang Bisa Kita Lakukan
Dalam rangka memperingati Hari Kusta Sedunia, masyarakat, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan diimbau untuk:
- Meningkatkan edukasi masyarakat tentang fakta bahwa kusta dapat disembuhkan dengan terapi yang tepat.
- Menghapus diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta agar mereka dapat hidup dan berkontribusi penuh di komunitas.
- Mendorong diagnosa dini dan pengobatan lengkap, sehingga risiko kecacatan dapat dihindari.
- Membangun dukungan sosial bagi pasien kusta dan keluarga untuk memperkuat kesehatan mental dan kesejahteraan secara menyeluruh.
- Melibatkan peran komunitas dalam kampanye anti-stigma serta penyuluhan kesehatan secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Peringatan World Leprosy Day 2026 menjadi momentum penting untuk mempertegas bahwa kusta bukanlah penyakit yang mematikan dan tidak lagi merupakan kutukan sosial. Penyakit ini dapat disembuhkan secara medis, tetapi tantangan terbesarnya adalah stigma dan diskriminasi yang masih melekat di berbagai lapisan masyarakat.
Melalui kerja sama antara tenaga kesehatan, komunitas, media, dan pembuat kebijakan, kita dapat mendorong : Zero New Cases, Zero Disabilities, dan Zero Stigma, sehingga masa depan tanpa kusta menjadi lebih dekat untuk dicapai.
Sumber : dr. Febrian Renatasari, Sp.DVE, FINSDV (Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi RSUD Bhakti Dharma Husada)
Editor : Dwi Kurnia Puspitasari, S.KM (Tim PKRS RSUD BDH)
REFERENSI
- World Health Organization. (2024). Leprosy (Hansen’s disease). World Health Organization.
- World Health Organization. (2026). World Leprosy Day 2026: Leprosy is curable, the real challenge is stigma. World Health Organization.
- World Health Organization. (2023). Global leprosy (Hansen disease) update. Weekly Epidemiological Record, 98(36), 421–444.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Indonesia percepat eliminasi kusta dan filariasis menuju target bebas NTDs 2030.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Profil kesehatan Indonesia tahun 2023. Jakarta: Kemenkes RI.
- Somar, P., Waltz, M. M., & van Brakel, W. H. (2020). The impact of leprosy on the mental wellbeing of leprosy-affected persons and their family members: A systematic review. Global Mental Health, 7, e15.