Setiap 1 Desember, dunia memperingati Hari HIV/AIDS sebagai momen untuk mengajak masyarakat lebih sadar, peduli, dan paham tentang HIV. Tujuannya yaitu supaya semakin banyak orang yang mengetahui fakta sebenarnya, dan semakin mudah bagi setiap orang untuk mendapatkan layanan kesehatan yang aman dan berkelanjutan. Tema nasional tahun ini adalah “Bersama hadapi perubahan, jaga keberlanjutan layanan HIV.” Tema ini mengingatkan kita bahwa di tengah perubahan zaman, kebijakan, pendanaan, dan gaya hidup, layanan HIV harus tetap ada, tetap mudah diakses, dan tetap mendukung siapa pun yang membutuhkan. Layanan HIV yang berkelanjutan bisa mencegah infeksi baru, menjaga kesehatan orang dengan HIV, dan mengurangi dampak sosial yang selama ini sering muncul karena faktor stigma masyarakat.

 

Prevalensi ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)

  • Prevalensi Global

Menurut UNAIDS lembaga PBB yang menangani HIV/AIDS, pada 2023 tercatat sekitar 39,9 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Pada akhir 2024 diperkirakan sekitar 40,8 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Angka ini menunjukkan besarnya tantangan global untuk memastikan akses perawatan dan pencegahan untuk semua.

  • Ringkasan data terbaru di Indonesia

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), estimasi jumlah ODHIV di Indonesia pada 2025 adalah sekitar 564.000 orang. Dari estimasi tersebut, hingga Maret 2025 sekitar 356.638 orang (sekitar 63%) sudah terdeteksi. Dari mereka yang terdeteksi, sekitar 67% telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan 55% di antaranya menunjukkan viral load tersupresi artinya virus berhasil ditekan ke tingkat yang sangat rendah.

Angka prevalensi dan cakupan layanan bukan sekadar statistik, tetapi ini mencerminkan seberapa efektif sistem kesehatan dalam menemukan kasus, memberi pengobatan, dan mencegah kematian serta penularan. Penurunan pendanaan, gangguan rantai pasokan obat, atau berkurangnya akses layanan dapat langsung menurunkan angka deteksi dan pengobatan, dengan konsekuensi meningkatnya kasus baru dan kematian yang sebenarnya bisa dicegah.

 

Pentingnya “Keberlanjutan Layanan HIV”

  1. Perubahan pendanaan global dan risiko gangguan layanan.

Laporan internasional menunjukkan adanya pengurangan dukungan pendanaan di beberapa wilayah yang mengancam program pencegahan, tes, dan layanan ARV. Ketika pendanaan runtuh, layanan paling rentan (seperti program komunitas dan distribusi PrEP/kontrasepsi) seringkali terkena dampak pertama. Jika layanan terputus, angka infeksi baru dan kematian bisa kembali meningkat.

  1. Inovasi medis perlu dijangkau secara berkelanjutan.

Terobosan seperti obat jangka panjang (long-acting injectables) berpotensi mengubah pencegahan dan perawatan, tetapi aksesnya bergantung pada sistem layanan yang kuat dan pendanaan yang stabil.

  1. Stigma dan diskriminasi masih menghalangi akses.

Hanya layanan yang inklusif dan bebas stigma yang bisa menjangkau kelompok paling rentan, termasuk anak muda, pekerja seks, pengguna narkoba suntik, dan komunitas LGBTQ+.

 

Aksi nyata untuk masyarakat, layanan kesehatan, dan pemerintahan yang perlu dilakukan

  1. Untuk masyarakat umum
  • Lakukan tes sekali seumur hidup sebagai langkah awal, dan ulangi bila ada faktor risiko. Pengetahuan status diri menyelamatkan nyawa. (Sumber layanan tes: puskesmas, layanan komunitas, fasilitas kesehatan setempat).
  • Lawan stigma: perlakukan ODHIV dengan martabat; dukungan sosial membantu mereka tetap berobat dan mencapai supresi viral.
  1. Untuk penyedia layanan kesehatan & puskesmas
  • Pastikan layanan tes, konseling, ARV, dan dukungan psikososial terintegrasi dan mudah diakses. Buat jam layanan yang fleksibel, layanan ramah anak muda, dan jalur rujukan yang jelas.
  • Libatkan organisasi masyarakat dan kelompok komunitas dalam penyampaian layanan — mereka efektif menjangkau kelompok yang sering terpinggirkan.
  1. Untuk pembuat kebijakan
  • Lindungi dan prioritaskan pendanaan domestik untuk layanan HIV agar tidak terlalu tergantung pada donor luar negeri. Keberlanjutan dana penting untuk mencegah gangguan layanan ketika bantuan internasional berfluktuasi.
  • Dorong strategi pencegahan terpadu: pendidikan seks yang berbasis bukti, akses PrEP bagi populasi berisiko tinggi, distribusi kondom, serta program harm reduction untuk pengguna narkoba suntik.
  1. Pesan untuk para ODHIV dan keluarga
  • Jika Anda menerima ARV : teruslah minum obat sesuai resep — supresi viral melindungi kesehatan Anda dan mencegah penularan. Layanan kesehatan siap membantu masalah efek samping atau kendala akses obat.
  • Jika Anda belum tes: ada layanan yang aman dan rahasia; mengetahu status = membuka akses ke pengobatan dan hidup sehat.

 

“Dengan pengobatan rutin dan layanan yang berkelanjutan, pasien dengan HIV/AIDS dapat tetap hidup sehat, produktif, bahkan tanpa risiko menularkan. Saat ini yang kita butuhkan adalah keberanian untuk tes dan konsisten dalam pengobatan. Yang membuat HIV berbahaya itu virusnya bukan orangnya, akan tetapi masih didapati orang yang merasa takut untuk memeriksakan diri. Padahal pemeriksaan status HIV itu adalah sebuah langkah penyelamatan, bukan hukuman yang pada akhirnya mendapatkan stigma negatif masyarakat” Jelaskan dr. Febrian Renatasari, Sp.DVE, Finsdv, Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika RSUD Bhakti Dharma Husada

 

Dokter Febrian juga mengajak masyarakat untuk berhenti menghakimi, mulai memahami, dan menjaga keberlanjutan layanan HIV. Karena pengobatan yang tidak terputus dapat membuat pasien tetap sehat dan mencegah penularan. Setiap orang berhak sembuh, merasa aman, dan didukung. Sehingga, jangan biarkan stigma menghentikan pasien untuk mencari pertolongan. Setiap orang memiliki peran untuk memastikan layanan HIV tetap berjalan dan mudah dijangkau.

 

Sumber : dr. Febrian Renatasari, Sp.DVE, Finsdv

Editor : Dwi Kurnia Puspitasari, S.KM (Tim PKRS RSUD BDH)

 

Referensi

  1. UNAIDS. (2024). Global AIDS Update 2024: The Path That Ends AIDS. Geneva: Joint United Nations Programme on HIV/AIDS.
  2. UNAIDS. (2025). World AIDS Day 2025 Message & Fact Sheet. Joint United Nations Programme on HIV/AIDS.
  3. World Health Organization (WHO). (2024). HIV/AIDS Fact Sheet. Geneva: World Health Organization.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023–2025). Laporan Perkembangan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual di Indonesia. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Pernyataan Resmi Hari AIDS Sedunia 2025.
  6. The Global Fund. (2024). HIV Program Sustainability and Funding Transition Report.
  7. WHO. (2024). Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring. Geneva: World Health Organization.
  8. Kementerian Kesehatan RI – Ditjen P2P. (2024). Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS Indonesia 2025.

© 2025 - RSUD Bhakti Dharma Husada
Crafted with ♥️ by IT & PKRS RSUD BDH

Untuk Kegawatdaruratan       031-7404444