Setiap tahun, Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) diperingati pada Kamis kedua bulan Oktober. Tahun ini, tema global yang diusung adalah #LoveYourEyes, sebuah ajakan sederhana namun memiliki makna cintai dan rawat penglihatanmu sebelum terlambat. Sayangnya, saat ini banyak masyarakat yang baru menyadari pentingnya pemeriksaan mata setelah penglihatan mereka terganggu. Padahal, pemeriksaan mata rutin dapat mendeteksi gangguan sejak dini, bahkan sebelum gejalanya terasa.

Data Prevalensi Penyebab Gangguan Penglihatan

Prevalensi Secara Global :

  • Menurut World Health Organization (WHO, 2023), lebih dari 2,2 miliar orang di seluruh dunia mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan, dan setidaknya 1 miliar kasus di antaranya sebenarnya dapat dicegah atau diobati.
  • Di antara penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan, kelainan refraksi dan katarak tetap menjadi penyebab terbesar secara global.

Prevalensi di Indonesia :

  • Diperkirakan adanya 8 juta kasus gangguan penglihatan di Indonesia tahun 2022, dengan 272.000 orang mengalami kebutaan.
  • Survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) dan data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 3 dari 100 orang usia > 50 tahun mengalami kebutaan (yaitu sekitar 3 %) di Indonesia.
  • Dari total penderita gangguan penglihatan, 81,2 % disebabkan oleh katarak menurut data Kemenkes / PERDAMI.

Prevalensi di Jawa Timur :

  • Prevalensi katarak di Provinsi Jawa Timur berdasarkan data Riskesdas 2013 adalah sekitar 1,6 % dari populasi.
  • Berdasarkan data survei RAAB 2015, Jawa Timur mencatat angka kebutaan (pada usia > 50 tahun) sekitar 4,4 %, dan 81,1 % dari kasus kebutaan tersebut disebabkan oleh katarak.
  • Di Jawa Timur, katarak menjadi penyebab utama kebutaan di provinsi ini, dan daerah ini disebut sebagai penyumbang angka kebutaan tinggi di level nasional.

Prevalensi di Surabaya :

  • Untuk gangguan refraksi: data Dinas Kesehatan Kota Surabaya mencatat bahwa antara Januari – Juli 2020 ada 2.665 pasien gangguan refraksi mata, turun dibanding 4.463 pasien di tahun 2019.
  • Meski bukan data prevalensi kuantitatif dalam persentase, angka tersebut menunjukkan bahwa gangguan refraksi mata memang “nyata” dan ada dalam jumlah signifikan di Surabaya

Pesan dari Dokter Spesialis Mata RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya

“Kesehatan mata sering kali diabaikan karena tidak terasa sakit di awal. Padahal, beberapa gangguan seperti glaukoma atau retinopati diabetik bisa menyebabkan kebutaan permanen bila tidak terdeteksi sejak dini.

Karena itu, kami di RSUD BDH mengajak masyarakat untuk rutin memeriksakan mata, minimal satu kali dalam setahun, terutama bagi yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki penyakit seperti diabetes dan hipertensi.

Satu kali pemeriksaan mata bisa mencegah bertahun-tahun kehilangan penglihatan.
Jangan tunggu gejala parah, periksalah sejak dini.” — dr. Arief Hidayat Sp.M, Dokter Spesialis Mata RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya

Ciri-Ciri Awal Gangguan Penglihatan yang Perlu Diwaspadai

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Pandangan kabur atau ganda,
  • Sering menyipitkan mata saat membaca atau menatap layar,
  • Sakit kepala setelah beraktivitas visual,
  • Mata terasa kering, gatal, atau berair,
  • Pandangan tampak gelap atau ada “bayangan” di tengah penglihatan.

Jika mengalami salah satu gejala di atas, segera periksakan ke dokter mata.

Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Mata

Menjaga mata bukanlah hal yang sulit, cukup dengan kebiasaan baik setiap hari:

  1. Gunakan aturan 20-20-20 : setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan sejauh 20 kaki (6 meter) selama 20 detik.
  2. Gunakan pencahayaan yang cukup saat membaca atau bekerja.
  3. Konsumsi makanan bergizi, kaya vitamin A, C, E, dan omega-3.
  4. Gunakan pelindung mata saat bekerja di area berdebu atau berisiko.
  5. Periksakan mata secara rutin di fasilitas kesehatan terpercaya seperti RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya.

Ayo, Periksa Matamu Sekarang!

Jika kamu sering merasa mata cepat lelah, penglihatan kabur, atau sulit fokus, jangan ditunda lagi! Datanglah ke Klinik Mata RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya, pemeriksaan mata dilakukan oleh dokter spesialis mata berpengalaman dengan alat modern dan aman. Langkah kecilmu hari ini bisa menyelamatkan penglihatanmu di masa depan.
Cintai matamu, rawat penglihatanmu, dan tetap sehat bersama RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya.

Sumber : dr. Arief Hidayat Sp.M (Dokter Spesialis Mata RSUD BDH)

Editor : Dwi Kurnia Puspitasari, S.KM (Tim PKRS RSUD BDH)

Referensi:

  1. World Health Organization. (2023). World Report on Vision. Geneva: WHO.
  2. International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB). (2024). World Sight Day 2024 Campaign: #LoveYourEyes.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Situasi Gangguan Penglihatan dan Kebutaan di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
  4. (2022). Angka kebutaan dan gangguan penglihatan di Indonesia tembus 8 juta kasus. GoodStats Indonesia.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Katarak penyebab terbanyak gangguan penglihatan di Indonesia.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Begini strategi pengentasan gangguan penglihatan di Indonesia.
  7. Adi Husada Medical Journal. (2019). Prevalensi katarak di Provinsi Jawa Timur berdasarkan Riskesdas 2013. Adi Husada Health and Medical Research.
  8. Jakarta Eye Center (JEC). (2023). Peringati HUT Surabaya ke-730, JEC Java Surabaya berikan operasi katarak gratis kepada 100 warga.
  9. Pemerintah Kota Surabaya. (2020). Jumlah penderita gangguan refraksi mata di Surabaya mengalami penurunan signifikan.

© 2025 - RSUD Bhakti Dharma Husada
Crafted with ♥️ by IT & PKRS RSUD BDH

Untuk Kegawatdaruratan       031-7404444